Senin, 25 Februari 2013

Masyarakat dan Kebudayaan Kabupaten CILACAP


MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN CILACAP

Cilacap merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah terbesar yakni 6,9 % dari luas wilayah provinsi Jawa tengah. Begitu luasnya wilayah ini sehingga memiliki dua kode telepon yaitu 0282 dan 0280. Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Brebes, Samudera Hindia di sebelah selatan, kabupaten Banyumas di sebelah timur dan provinsi Jawa Barat di sebelah Barat. Kabupaten cilacap terbagi menjadi 24 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Ibu kota kabupaten Cilacap adalah Cilacap yang terdiri atas kecamatan Cilacap Utara, Cilacap Tengah, dan Cilacap Selatan.
Berdasarkan kondisi geografis tersebut menyebabkan Cilacap memiliki keanekaragaman budaya terutama wilayahnya yang berada pada daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa sebagian masyarakat di kabupaten Cilacap berbahasa sunda terutama pada kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan wilayah Jawa Barat yaitu Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Kedungreja, Patimuan, Cimanggu dan Karang pucung. Hal ini disebabkan karena menurut latar belakang sejarahnya, wilayah Cilacap bagian barat dahulunya adalah bagian dari wilayah sunda. Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik yang menceritakan perjalanan Prabu Bujangga Manik (seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Jawa dan Bali pada awal abad ke-16) bahwa batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (saat ini disebut dengan kali Brebes) dan sungai ciserayu (saat ini disebut kali serayu) yang berada di povinsi Jawa Tengah.
Awal mula kota Ciacap dimulai dari masa kerajaan hingga menjadi sebuah kota. Penelusuran sejarah pada masa kerajaan jawa diawali sejak zaman kerajaan Mataram Hindu sampai dengan kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman kerajaan Majapahit (1294-1476), daerah cikal bakal kabupaten Cilacap terbagi atas wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat. Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap di sebelah timur di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati pada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram. Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon. Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.
Pada masa penjajahan Belanda, Cilacap merupakan bagian dari kabupaten banyumas di bawah kekuasaan bupati Banyumas. Akan tetapi, karena wilayahnya yang terlalu luas maka penjajah Belanda memutuskan agar wilayah cilacap dibuat afdeling tersendiri yaitu afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap yang menjadi tempat keduduan kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Pada masa residen Banyumas ke-9, Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda yang disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda bahwa usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda. Setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).
Cilacap kini berkembang menjadi sentra-sentra industri yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, terdapat industri besar seperti kilang bahan bakar milik Pertamina UP IV (terbesar se-Asia Tenggara) serta pabrik semen Portland (Holcim). Wilayah Cilacap sepertinya kurang lengkap tanpa menyebut pulau Nusakambangan yang dikenal dengan pulau penjara. Daerah ini sejak zaman Belanda dipergunakan untuk mengasingkan narapidana dengan masa hukuman yang lama. Nusakambangan kini tidak lagi hanya dipergunakan untuk orang hukuman, di sini terdapat potensi wisata yang dapat dikembangkan. Di dinding pantai tenggara Nusakambangan masih dapat dijumpai bangunan tua yang berfungsi sebagai rambu laut dan dikenal sebagai Mercusuar Cimiring. Bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah bisa menikmati keberadaan Benteng Pendem Cilacap, benteng yang dikenal sebagai Kusbatterij Op De Lantong Te Tjilatjap ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda.
Cilacap mungkin terlalu luas untuk dijabarkan semuanya. Secara umum, Cilacap terbagi menjadi budaya Jawa dan budaya Sunda. Budaya yang berbeda ini tentu menyebabkan pola masyarakat yang berbeda pula dan hal ini menimbulkan keunikan tersendiri yang selanjutnya terjadi pencampuran budaya dari kedua budaya tersebut. Dari segi perekonomian pun, secara umum terbagi menjadi dua yakni wilayah bagian selatan berkembang sektor perikanan laut dan bagian utara-barat berkembang sektor pertanian. Salah satu ciri khas dari masyarakat pesisir adalah tradisi budaya “sedekah laut” yang telah menjadi agenda besar tahunan kabupaten cilacap.
Sedekah laut yang diikuti oleh ribuan nelayan setempat dibiayai oleh APBD kabupaten Cilacap dan menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para turis domestik maupun mancanegara. Sedekah laut diselenggarakan pada hari jumat kliwon atau selasa kliwon pada bulan Muharram atau Sura bergantung mana yang jatuh lebih dahulu pada bulan yang bersangkutan. Sebagai ritual budaya, sedekah laut kurang lebih bermakna ungkapan rasa syukur nelayan atas karunia Tuhan melalui kelimpahan pendapatan dan penghasilan selama setahun terakhir guna mendapatkan ikan di tengah laut untuk menghidupi keluarganya. Ungkapan rasa syukur bisa dilakukan melalui berbagai media, maka dalam konteks sedekah laut ini nelayan cilacap “melarung sesaji” membuang sesaji ke tengah laut dalam bentuk kepala kerbau dan uborampe lainnya yang diusung dengan sejumlah keranda. Acara dimulai dari upacara resmi di pendopo kabupaten, kemudian arakan menuju teluk penyu tempat di mana sesaji itu akan dinaikan ke dalam perahu dan dilarung di sekitar Karang Bandung sisi timur Pulau Nusakambangan.
Saya termasuk pada bagian wilayah Cilacap yang berbahasa Sunda tepatnya dari kecamatan Dayeuhluhur. Tradisi sunda bisa saya rasakan sendiri yang terasa begitu kental, bahkan banyak yang mengatakan sebaiknya wilayah ini masuk ke wilayah Jawa Barat. Hal itu dapat dilihat di mana mobilitas penduduknya sebagian besar adalah ke wilayah kota Banjar, Jawa Barat. Misalnya dalam sektor perdagangan, masyarakat melakukan transaksi barang dengan pasar di kota Banjar, bukannya dengan kecamatan lain yang berada dalam satu kabupaten cilacap. Tenaga kerja yang ada di wilayah ini cenderung mencari lapangan pekerjaan ke kota-kota di Jawa Barat seperti Ciamis, Tasikmalaya, Bandung, dsb.
Masyarakatnya masih sangat menjunjung budaya gotong royong. Terlihat dalam berbagai hal kegiatan, masyarakat melaksanakannya secara bersama-sama seperti kerja bakti membersihkan jalan, memperbaiki saluran irigasi, membangun rumah dsb. Gotong royong juga berlaku dalam hal mata pencaharian yang dalam hal ini sebagian besar profesi mereka sebagai petani. Ada istilah yang disebut “liuran”, sebuah sistem kerja di mana para pemilik sawah (petani) bekerja bersama-sama di salah satu pesawahan milik para petani itu kemudian berpindah ke pesawahan lain milik petani yang lainnya sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan upah untuk pekerja karena telah diganti oleh tenaga yang mereka gunakan dengan saling membantu satu sama lain. Suasana kerukunan terasa begitu kuat dan hal ini yang merasa saya nyaman tinggal di sana, berbeda dengan kehidupan di kota. Banyak inspirasi yang saya dapatkan dari perilaku-perilaku masyarakat tersebut dan itu menjadi kajian tersendiri bagi saya untuk terus memahami semua budaya dan adat istiadat yang berlaku di sana.
Mitos-mitos banyak terdapat di wilayah tempat saya tinggal tersebut. Budaya sesaji yang umum dijumpai di daerah jawa juga dapat ditemui di sini dengan istilah lain “sasajen”. Sesaji umumnya dilakukan sesuai tujuan tertentu. Misalkan saat mau memanen padi dilakukan sesaji yang disebut “nyalin”, ada sesaji yang dilakukan ketika seseorang melaksanakan hajatan, dan ada juga sesaji yang dilakukan secara berkala pada bulan tertentu. Sesaji dapat bermakna ungkapan syukur atau permohonan keselamatan kepada Tuhan bergantung dari tujuannya tadi. Sebagai ungkapan syukur misalnya karena manusia dilahirkan ke dunia ini lewat perantara ibu-bapak dan seterusnya sehingga demi menghormati mereka yang sudah berada di alam berbeda dilakukan sesaji dengan harapan hakikatnya disampaikan kepada mereka dan barokahnya diperoleh bagi yang masih tinggal di dunia. Namun, saat ini sesaji dilakukan hanya oleh golongan tua saja dan mereka pun menyadari bahwa generasi muda saat ini tidak akan mungkin melakukannya seiring dengan arus modernisasi yang berkembang.
Budaya seni tak kalah menariknya di banding kesenian di daerah-daerah lain. Adapun kesenian di daerah ini merupakan kesenian sunda seperti wayang golek, tari ronggeng, calung sunda dll. Bahkan di kabupaten Cilacap sendiri, setiap kecamatan memiliki kesenian khas masing-masing seperti sedekah bumi (cilacap tengah), kuda kepang (kawunganten), reog (maos dan sampang), kotekan lesung (kesugihan), calung (binangun), calung sunda (dayeuhluhur), baritan (nusawungu), nyadran (adipala), buncis (kroya), ngelik (cipari), tayub jaipong (wanareja) dan lainnya.
Dari segi kuliner, terdapat beberapa makanan yang menjadi khas kabupaten cilacap. Hasil laut dibuat menjadi berbagai variasi makanan seperti ikan asin, jambal roti, abon tuna, sambal tuna dan jenis seafood lainnya. Sementara dari hasil pertaniannya terdapat beberapa kuliner seperti keripik sukun, keripik bayam, tempe dages, lontong opor, serabi cilacap dan sebagainya
Berdasarkan itu semua, saya bisa menarik kesimpulan bahwa suatu kebudayaan masyarakat dipengaruhi dan erat kaitannya dengan latar belakang sejarah, kondisi geografis dan perekonomian. Derasnya arus modernisasi mulai menggusur nilai-nilai budaya yang ada dan sebagai generasi penerus, sudah kewajiban kita untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang bersifat baik. . .

KEBUDAYAAN BANYUMAS

KEBUDAYAAN BANYUMAS

Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa, Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat, 1984) yang berkonotasi kasar, tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Kebudayaan Banyumas atau sering pula disebut budaya Banyumasan hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton. Akhiran “an” pada kata “Banyumas” menunjukkan lokalitas atau kekhususan, seperti pada kata “Semarangan”, “Jawa Timuran”, “Surabayan”, “Magelangan” dan lain-lain. Rene T.A. Lysloff berpendapat bahwa penggunaan akhiran “an” pada kata-kata semacam ini berkaitan dengan pandangan cenderung dimaksudkan untuk mengecilkan tradisi dan berhubungan dengan persoalan “gaya”. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Banyumasan merupakan unsur lokal di dalam satu lingkup yang lebih besar; kebudayaan Jawa.
Memang, kebudayaan Banyumas pada prinsipnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa. Namun demikian dikarenakan kondisi dan letak geografis yang jauh dari pusat kekuasaan kraton serta latar belakang kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya. Jiwa dan semangat kerakyatan kebudayaan Banyumas telah membawanya pada penampilan yang—apabila dilihat dari sudut pandang kebudayaan kraton—terkesan kasar dan rendah. Kenyataan demikian menyebabkan kebudayaan Banyumas seringkali disub-kulturkan, dianggap kurang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Jawa secara keseluruhan.

Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru, kultur Sunda, kultur Islami, dan kultur Barat. Unsur-unsur kebudayaan Jawa lama (Jawa Kuno dan Pertengahan) dipengaruhi kebudayaan India (Hindu-Budha) yang sejak lama telah disebarkan oleh seorang pendeta bernama Aji Saka. Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung, dusun-dusun atau dukuh-dukuh, sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja.

Kandungan unsur-unsur kebudayaan Jawa lama di dalam kebudayaan Banyumas terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang. Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.

Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan/atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain: (1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas; (2) memiliki karakter lugu dan terbuka; (3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh; (4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas; (5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan, dan bahasa Sunda; (6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan (7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas. Dalam percaturan sosial yang lebih luas, ciri-ciri semacam ini telah menjadi salah satu penanda yang dapat dengan mudah dikenali oleh kelompok masyarakat lain.

Pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha) terhadap kebudayaan Banyumas dapat dilihat artefak peninggalan sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat Banyumas yang dekat dengan sistem kepercayaan pada kedua agama tersebut. Di daerah ini banyak dijumpai artefak sejarah seperti lingga, yoni, arca prasejarah dan benda-benda lain yang merupakan peninggalan persebaran kebudayaan Hindu. Di wilayah Banyumas juga diyakini terdapat sebuah kadipaten yang berkembang pada masa pra Islam, yaitu Kadipaten Pasirluhur. Ini membuktikan Banyumas pernah menjadi salah satu basis yang kuat bagi persebaran agama Hindu.

Dalam hal sistem kepercayaan, pengaruh Hindu-Budha tercermin pada kuatnya kepercayaan animisme, dinamisme, totemisme, dewa-dewi serta kekuatan-kekuatan supranatural yang datang dari alam dan roh nenek-moyang. Di daerah ini terdapat berbagai macam ritual yang dilakukan secara berkala yang dihitung berdasarkan kalender Jawa maupun pranata mangsa. Misalnya: ritual ruat bumi dan Suran pada bulan Sura, penjamasan pusaka pada setiap bulan Mulud, Sadranan dan unggah-unggahan pada bulan Sadran, udhun-udhunan pada bulan Syawal serta cowongan, ujungan dan baritan yang dilaksanakan setiap mangsa Kapat dan Kelima. Kegiatan ritual semacam ini masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas hingga sekarang.

Hingga awal dekade tahun 1990-an masih banyak dijumpai kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas pada setiap malam hari kelahiran dengan cara membakar kemenyan atau dupa serta beberapa properti sesaji seperti kembang telon (bunga tiga macam) dan bubur merah putih yang diperuntukkan bagi sedulur tua-sedulur nom (saudara tua dan saudara muda). Di sisi lain, peninggalan agama Budha masih dapat dilihat pada masih tersisanya persebaran agama Budha di daerah pegunungan Kendheng, yaitu pegunungan yang membelah wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, membujur dari arah barat hingga ke timur.

Persebaran agama Islam di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan di daerah itu. Agama Islam mulai menyebar di wilayah Banyumas berlangsung sejak era Demak, yaitu pada saat wilayah ini di bawah kekuasaan Kadipaten Pasir. Pembawa ajaran agama Islam adalah Makdum Wali, yang berhasil mengislamkan Adipati Banyak Blanak, penguasa Pasir. Bahkan, Adipati Banyak Blanak kemudian turut berperan mengislamkan berbagai wilayah, antara lain wilayah Banyumas, Jawa Barat dan wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Atas peran sertanya itu, Raja Demak memberikan beberapa hadiah kepada Adipati Banyak Blanak, antara lain: (1) Kadipaten Pasir lestari menjadi wilayah perdikan (tidak berkewajiban atur pisungsung/pajak kepada Demak); (2) Kadipaten Pasir diberi wilayah mulai dari Tugu Mangangkang (lereng gunung Sindoro-Sumbing) hingga Udhug-udhug Karawang; dan (3) Adipati Banyak Blanak diangkat senapati bergelar Kanjeng Adipati Mangku Bumi. Sejak itu pula agama Islam menggantikan posisi agama-agama yang berkembang sebelumnya (Hindu-Budha) sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Banyumas.

Persebaran Islam di Banyumas tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan lama yang telah berurat-berakar dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Islam yang dikembangkan di wilayah ini berupa Islam Abangan yang tetap memberikan peluang bagi berkembangnya kepercayaan animisme-dinamisme bagi pemeluknya. Pemahaman tentang ketuhanan berlaku kebiasaan “budaya membingkai agama”. Aspek-aspek kebudayaan berperan lebih dominan dalam kehidupan sosial, ngemuli dan membingkai ajaran-ajaran Islam. Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal seperti dapat dijumpai dalam ragam kesenian, ungkapan tradisional, folklore, kepercayaan tradisional dan lain-lain. Ini berbeda dengan kebudayaan pesisir (utara) yang lebih cenderung mengembangkan Islam puritan dalam bentuk “agama membingkai budaya”.

Perkembangan kebudayaan Banyumas tidak sekedar di wilayah administratif Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara berbatasan dengan kebudayaan pesisir utara, di sebelah selatan mencapai pesisir kidul, di sisi timur berbatasan dengan kebudayaan Kedu, dan di sisi barat berbatasan dengan kebudayaan Sunda. Keberadaan kebudayaan Banyumas sangat spesifik dan khas, menandai eksistensi masyarakat kecil di antara hegemoni kebudayaan kraton yang berkembang di pusat-pusat kerajaan Jawa.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas. Contoh konkretnya adalah mitos dua leluhur yang demikian kuat dalam masyarakat Banyumas. Mereka percaya bahwa leluhur Banyumas merupakan percampuran antara Majapahit dan Pajajaran. Raden Baribin, salah seorang adik dari Brawijaya IV telah menikah dengan salah seorang putri Pajajaran. Keduanya kemudian dikaruniai keturunan bernama Raden Joko Kahiman yang menjadi Adipati Banyumas pertama bergelar Adipati Warga Utama II (Adipati Mrapat). Kenyataan demikian menggambarkan betapa dari sisi historis sekalipun dapat dilihat kuatnya percampuran Jawa-Sunda dalam ranah kebudayaan Banyumas.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas akrab sekali dengan folklor yang sangat dipengaruhi oleh ajaran kepercayaan animisme-dinamisme dan perkembangan Islam abangan. Kepercayaan terhadap takhayul, kekuatan-kekuatan supranatural yang melingkupi hidup manusia dan kepercayaan tentang ketuhanan menggambarkan percampuran antara sistem kepercayaan animisme-dinamisme dengan ajaran Islam Abangan. Contoh konkret dapat dijumpai pada mantra-mantra tradisional. Seseorang yang berjalan tepat pada tengah hari di tempat-tempat yang dianggap angker (dihuni makhluk ghaib) akan mengucapkan mantra tradisional-Islami “Millah bedhug” atau mengucapkan “Bismillah, kyaine, putune ajeng liwat”. Pada dunia kanak-kanak pun banyak dijumpai mantra sejenis ini. Seorang anak yang mencari capung mengucapkan mantra “Kemalo-kemalo goletna kinjeng kebo ora nyandhang ora nganggo, nganggoa welulang kebo”.

Model mantra-mantra seperti ini dilakukan untuk hal-hal yang serius maupun sekedar main-main. Ucapan, “Millah bedhug” atau “Bismillah, kyaine, putune ajeng liwat” adalah contoh sesuatu yang dianggap serius. Masyarakat daerah ini percaya bahwa di tempat-tempat tertentu dihuni oleh roh halus, baik yang berkelakuan baik ataupun jahat. Sikap kehati-hatian mereka ditunjukkan melalui kalimat-kalimat mantra semacam ini. Adapun dalam konteks main-main, mantra yang diucapkan oleh anak-anak penangkap capung menggambarkan betapa dalam diri mereka terdapat keyakinan atau sugesti, bahwa dengan mengucap mantra tersebut maka capung akan menjadi jinak. Sebaliknya, agar capung tersebut tidak jinak maka mantra tersebut ditangkal dengan mantra yang lain, ndhuling, ndhuling, mburimu ana maling (ndhuling, ndhuling, belakangmu ada maling).

Dalam konteks kesenian, local genius masyarakat Banyumas telah banyak menghasilkan ragam kesenian tradisional yang bernafas kerakyatan seperti lengger, bongkel, jemblung, calung, angklung, dan lain-lain. Aneka ragam kesenian ini dibangun dari kultur kerakyatan. Mereka memiliki standar estetik yang berbeda dengan ragam kesenian kraton yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Berkesenian dalam konteks kebudayaan Banyumas adalah sarana ekspresi totalitas pengalaman masyarakat yang hidup dalam komunitas alam pedesaan, jauh dari hegemoni kraton, kultur tradisional-agraris dan kepekaan sosial yang mencerminkan gerak kehidupan keseharian mereka.

Di sisi lain, kehidupan kebudayaan Banyumas sangat dipengaruhi oleh tradisi lisan. Sebagai daerah yang relatif tertinggal dalam perkembangan budaya di masa lalu, budaya tulis di daerah ini relatif berkembang lebih lambat dibanding dengan pusat-pusat kerajaan. Imbas dari semua ini telah memekarkan tradisi lisan sebagai salah satu bagian terpenting dari hidup mereka. Masyarakat di daerah ini memiliki teknik-teknik mengingat peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Banyumas. Seorang warga yang buta huruf di Banyumas dapat bercerita dengan jelas tentang sejarah Banyumas, babad Pasirluhur atau peristiwa Banjir Banyumas. Demikian pula masyarakat di daerah ini memiliki cara untuk mengingat hari, pasaran dan tanggal tahun dalam waktu sewindu hanya dengan hitungan jari.

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan minum-minum (minuman keras) sambil main kartu dan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Pertunjukan tunil yang berupa pethilan (potongan) dari sandiwara diyakini berasal dari istilah toneel dalam kosa kata dalam bahasa Belanda. Demikian pula kostum yang dikenakan pada kesenian dhames dan angguk juga merupakan pengaruh kostum yang dikenakan para serdadu kolonial Belanda. Di sisi lain, pengaruh kolonial juga dijumpai pada model-model bangunan. Rumah potong sedhan adalah salah satu bentuk bangunan hasil pengaruh masa kolonial.
Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa, Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat, 1984) yang berkonotasi kasar, tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Kebudayaan Banyumas atau sering pula disebut budaya Banyumasan hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton. Akhiran “an” pada kata “Banyumas” menunjukkan lokalitas atau kekhususan, seperti pada kata “Semarangan”, “Jawa Timuran”, “Surabayan”, “Magelangan” dan lain-lain. Rene T.A. Lysloff berpendapat bahwa penggunaan akhiran “an” pada kata-kata semacam ini berkaitan dengan pandangan cenderung dimaksudkan untuk mengecilkan tradisi dan berhubungan dengan persoalan “gaya”. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Banyumasan merupakan unsur lokal di dalam satu lingkup yang lebih besar; kebudayaan Jawa.
Memang, kebudayaan Banyumas pada prinsipnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa. Namun demikian dikarenakan kondisi dan letak geografis yang jauh dari pusat kekuasaan kraton serta latar belakang kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya. Jiwa dan semangat kerakyatan kebudayaan Banyumas telah membawanya pada penampilan yang—apabila dilihat dari sudut pandang kebudayaan kraton—terkesan kasar dan rendah. Kenyataan demikian menyebabkan kebudayaan Banyumas seringkali disub-kulturkan, dianggap kurang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Jawa secara keseluruhan.

Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru, kultur Sunda, kultur Islami, dan kultur Barat. Unsur-unsur kebudayaan Jawa lama (Jawa Kuno dan Pertengahan) dipengaruhi kebudayaan India (Hindu-Budha) yang sejak lama telah disebarkan oleh seorang pendeta bernama Aji Saka. Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung, dusun-dusun atau dukuh-dukuh, sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja.

Kandungan unsur-unsur kebudayaan Jawa lama di dalam kebudayaan Banyumas terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang. Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.

Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan/atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain: (1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas; (2) memiliki karakter lugu dan terbuka; (3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh; (4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas; (5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan, dan bahasa Sunda; (6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan (7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas. Dalam percaturan sosial yang lebih luas, ciri-ciri semacam ini telah menjadi salah satu penanda yang dapat dengan mudah dikenali oleh kelompok masyarakat lain.

Pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha) terhadap kebudayaan Banyumas dapat dilihat artefak peninggalan sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat Banyumas yang dekat dengan sistem kepercayaan pada kedua agama tersebut. Di daerah ini banyak dijumpai artefak sejarah seperti lingga, yoni, arca prasejarah dan benda-benda lain yang merupakan peninggalan persebaran kebudayaan Hindu. Di wilayah Banyumas juga diyakini terdapat sebuah kadipaten yang berkembang pada masa pra Islam, yaitu Kadipaten Pasirluhur. Ini membuktikan Banyumas pernah menjadi salah satu basis yang kuat bagi persebaran agama Hindu.

Dalam hal sistem kepercayaan, pengaruh Hindu-Budha tercermin pada kuatnya kepercayaan animisme, dinamisme, totemisme, dewa-dewi serta kekuatan-kekuatan supranatural yang datang dari alam dan roh nenek-moyang. Di daerah ini terdapat berbagai macam ritual yang dilakukan secara berkala yang dihitung berdasarkan kalender Jawa maupun pranata mangsa. Misalnya: ritual ruat bumi dan Suran pada bulan Sura, penjamasan pusaka pada setiap bulan Mulud, Sadranan dan unggah-unggahan pada bulan Sadran, udhun-udhunan pada bulan Syawal serta cowongan, ujungan dan baritan yang dilaksanakan setiap mangsa Kapat dan Kelima. Kegiatan ritual semacam ini masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas hingga sekarang.

Hingga awal dekade tahun 1990-an masih banyak dijumpai kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas pada setiap malam hari kelahiran dengan cara membakar kemenyan atau dupa serta beberapa properti sesaji seperti kembang telon (bunga tiga macam) dan bubur merah putih yang diperuntukkan bagi sedulur tua-sedulur nom (saudara tua dan saudara muda). Di sisi lain, peninggalan agama Budha masih dapat dilihat pada masih tersisanya persebaran agama Budha di daerah pegunungan Kendheng, yaitu pegunungan yang membelah wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, membujur dari arah barat hingga ke timur.

Persebaran agama Islam di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan di daerah itu. Agama Islam mulai menyebar di wilayah Banyumas berlangsung sejak era Demak, yaitu pada saat wilayah ini di bawah kekuasaan Kadipaten Pasir. Pembawa ajaran agama Islam adalah Makdum Wali, yang berhasil mengislamkan Adipati Banyak Blanak, penguasa Pasir. Bahkan, Adipati Banyak Blanak kemudian turut berperan mengislamkan berbagai wilayah, antara lain wilayah Banyumas, Jawa Barat dan wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Atas peran sertanya itu, Raja Demak memberikan beberapa hadiah kepada Adipati Banyak Blanak, antara lain: (1) Kadipaten Pasir lestari menjadi wilayah perdikan (tidak berkewajiban atur pisungsung/pajak kepada Demak); (2) Kadipaten Pasir diberi wilayah mulai dari Tugu Mangangkang (lereng gunung Sindoro-Sumbing) hingga Udhug-udhug Karawang; dan (3) Adipati Banyak Blanak diangkat senapati bergelar Kanjeng Adipati Mangku Bumi. Sejak itu pula agama Islam menggantikan posisi agama-agama yang berkembang sebelumnya (Hindu-Budha) sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Banyumas.

Persebaran Islam di Banyumas tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan lama yang telah berurat-berakar dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Islam yang dikembangkan di wilayah ini berupa Islam Abangan yang tetap memberikan peluang bagi berkembangnya kepercayaan animisme-dinamisme bagi pemeluknya. Pemahaman tentang ketuhanan berlaku kebiasaan “budaya membingkai agama”. Aspek-aspek kebudayaan berperan lebih dominan dalam kehidupan sosial, ngemuli dan membingkai ajaran-ajaran Islam. Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal seperti dapat dijumpai dalam ragam kesenian, ungkapan tradisional, folklore, kepercayaan tradisional dan lain-lain. Ini berbeda dengan kebudayaan pesisir (utara) yang lebih cenderung mengembangkan Islam puritan dalam bentuk “agama membingkai budaya”.

Perkembangan kebudayaan Banyumas tidak sekedar di wilayah administratif Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara berbatasan dengan kebudayaan pesisir utara, di sebelah selatan mencapai pesisir kidul, di sisi timur berbatasan dengan kebudayaan Kedu, dan di sisi barat berbatasan dengan kebudayaan Sunda. Keberadaan kebudayaan Banyumas sangat spesifik dan khas, menandai eksistensi masyarakat kecil di antara hegemoni kebudayaan kraton yang berkembang di pusat-pusat kerajaan Jawa.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas. Contoh konkretnya adalah mitos dua leluhur yang demikian kuat dalam masyarakat Banyumas. Mereka percaya bahwa leluhur Banyumas merupakan percampuran antara Majapahit dan Pajajaran. Raden Baribin, salah seorang adik dari Brawijaya IV telah menikah dengan salah seorang putri Pajajaran. Keduanya kemudian dikaruniai keturunan bernama Raden Joko Kahiman yang menjadi Adipati Banyumas pertama bergelar Adipati Warga Utama II (Adipati Mrapat). Kenyataan demikian menggambarkan betapa dari sisi historis sekalipun dapat dilihat kuatnya percampuran Jawa-Sunda dalam ranah kebudayaan Banyumas.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas akrab sekali dengan folklor yang sangat dipengaruhi oleh ajaran kepercayaan animisme-dinamisme dan perkembangan Islam abangan. Kepercayaan terhadap takhayul, kekuatan-kekuatan supranatural yang melingkupi hidup manusia dan kepercayaan tentang ketuhanan menggambarkan percampuran antara sistem kepercayaan animisme-dinamisme dengan ajaran Islam Abangan. Contoh konkret dapat dijumpai pada mantra-mantra tradisional. Seseorang yang berjalan tepat pada tengah hari di tempat-tempat yang dianggap angker (dihuni makhluk ghaib) akan mengucapkan mantra tradisional-Islami “Millah bedhug” atau mengucapkan “Bismillah, kyaine, putune ajeng liwat”. Pada dunia kanak-kanak pun banyak dijumpai mantra sejenis ini. Seorang anak yang mencari capung mengucapkan mantra “Kemalo-kemalo goletna kinjeng kebo ora nyandhang ora nganggo, nganggoa welulang kebo”.

Model mantra-mantra seperti ini dilakukan untuk hal-hal yang serius maupun sekedar main-main. Ucapan, “Millah bedhug” atau “Bismillah, kyaine, putune ajeng liwat” adalah contoh sesuatu yang dianggap serius. Masyarakat daerah ini percaya bahwa di tempat-tempat tertentu dihuni oleh roh halus, baik yang berkelakuan baik ataupun jahat. Sikap kehati-hatian mereka ditunjukkan melalui kalimat-kalimat mantra semacam ini. Adapun dalam konteks main-main, mantra yang diucapkan oleh anak-anak penangkap capung menggambarkan betapa dalam diri mereka terdapat keyakinan atau sugesti, bahwa dengan mengucap mantra tersebut maka capung akan menjadi jinak. Sebaliknya, agar capung tersebut tidak jinak maka mantra tersebut ditangkal dengan mantra yang lain, ndhuling, ndhuling, mburimu ana maling (ndhuling, ndhuling, belakangmu ada maling).

Dalam konteks kesenian, local genius masyarakat Banyumas telah banyak menghasilkan ragam kesenian tradisional yang bernafas kerakyatan seperti lengger, bongkel, jemblung, calung, angklung, dan lain-lain. Aneka ragam kesenian ini dibangun dari kultur kerakyatan. Mereka memiliki standar estetik yang berbeda dengan ragam kesenian kraton yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Berkesenian dalam konteks kebudayaan Banyumas adalah sarana ekspresi totalitas pengalaman masyarakat yang hidup dalam komunitas alam pedesaan, jauh dari hegemoni kraton, kultur tradisional-agraris dan kepekaan sosial yang mencerminkan gerak kehidupan keseharian mereka.

Di sisi lain, kehidupan kebudayaan Banyumas sangat dipengaruhi oleh tradisi lisan. Sebagai daerah yang relatif tertinggal dalam perkembangan budaya di masa lalu, budaya tulis di daerah ini relatif berkembang lebih lambat dibanding dengan pusat-pusat kerajaan. Imbas dari semua ini telah memekarkan tradisi lisan sebagai salah satu bagian terpenting dari hidup mereka. Masyarakat di daerah ini memiliki teknik-teknik mengingat peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Banyumas. Seorang warga yang buta huruf di Banyumas dapat bercerita dengan jelas tentang sejarah Banyumas, babad Pasirluhur atau peristiwa Banjir Banyumas. Demikian pula masyarakat di daerah ini memiliki cara untuk mengingat hari, pasaran dan tanggal tahun dalam waktu sewindu hanya dengan hitungan jari.

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan minum-minum (minuman keras) sambil main kartu dan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Pertunjukan tunil yang berupa pethilan (potongan) dari sandiwara diyakini berasal dari istilah toneel dalam kosa kata dalam bahasa Belanda. Demikian pula kostum yang dikenakan pada kesenian dhames dan angguk juga merupakan pengaruh kostum yang dikenakan para serdadu kolonial Belanda. Di sisi lain, pengaruh kolonial juga dijumpai pada model-model bangunan. Rumah potong sedhan adalah salah satu bentuk bangunan hasil pengaruh masa kolonial.

Senin, 18 Februari 2013

KEBUDAYAAN SUNDA


KARAKTERISTIK BUDAYA
Dalam karakteristik budaya sunda sendiri memiliki kemampuan-kemampuan yang menjadikannya sebagai daya hidup bagi masyarakatnya, yang diantaranya seperti : Kemampuan berkoordinasi dan berorganinasi, dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial. Kemampuan beradaptasi, dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas, dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Kemampuan tumbuh dan berkembang, diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas dan dalam wawasan-nya selalu menawarkan pemikiran-pemikiran yang segar dan baru Kemampuan regenerasi, dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif.
Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kebiasaan. Adapun kebisaan dalam hidup manusia merupakan kolaborasi harmonis dari tiga aspek, yakni :
Ø Tanggung Jawab, dimaknai sebagai suatu kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya.
Ø Idealisme, dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang.
Ø Spontanitas, dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar.
NILAI TRADISI MASYARAKAT SUNDA
Meniliki nilai budaya yang tinggi, budaya Sunda dicirikan dengan telah dikenalnya budaya tulis semenjak zaman dahulu. Pesan-pesan para leluhur Sunda tersebut menunjukkan bahwa makna yang dimiliki dari budaya Sunda tergolong kedalam makna nilai yang tinggi dan strategis serta sangat dihormati oleh masyarakatnya. Pesan moral yang awalnya terbatas hanya untuk masyarakat kerajaan Sunda ternyata memiliki nilai yang bersifat universal yang dapat juga dijadikan panutan oleh masyarakat di luar etnis Sunda agar kita selalu bersikap baik memperlakukan alam. Karena secara nurani setiap komunitas makhluk hidup termasuk manusia, siapa dan seberapapun kecilnya selalu membutuhkan tatanan kehidupan yang seimbang, selaras dan harmonis.
NILAI RELIGIUS
Dalam perjalanannya nilai-nilai tradisi dan religius masyarakat Sunda terus mengalami proses perkembangan sesuai dengan perubahan zaman. Agama Islam yang merupakan agama mayoritas masyarakat Sunda saat ini. Dalam aplikasinya, perkembangan keagamaan seperti yang terjadi pada masyarakat Sunda sebenarnya merupakan proses perkembangan dari mitos-mitos masyarakat yang pada intinya selalu mencari bentuk hubungan yang seimbang antara keberadaan manusia dengan lingkungan alamnya.
PERUBAHAN BUDAYA MASYARAKAT SUNDA
Tingginya budaya Sunda seperti dikenalnya budaya tulis, dimana budaya tulis sudah dikenal sejak dahulu kala yang diwujudkan dalam berbagai bentuk prasasti tampaknya sudah semakin tidak terlihat dalam kehidupan masyarakat Sunda saat ini. Realitas kondisi keempat daya hidup yang dimiliki oleh budaya Sunda dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespon berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kmasyarakat begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang mulai terhapus oleh kebudayaan asing.
Sebagai contoh yang paling jelas adalah bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas masyarakat Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”, untuk tidak dikatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada masyarakat Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa “gengsi” ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.
Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara pemikiran-pemikiran baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Kebudayaan Sunda pun tampaknya terlihat masyarakat membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda yang gagap dengan regenerasi.
Generasi-generasi baru masyarakat Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta “terlalu majunya” pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan norma-norma yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.
Mengamati daya hidup kebudayaan Sunda yang hanya memperlihatkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi pada aspek mutu hidup yang digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik dari aspek tanggung jawab, idealisme maupun spontanitas. Lemahnya rasa tanggung jawab tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewajiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

KEBUDAYAAN JAWA

Sekaten dari kata Sekati

Sekaten, atau pasar malam yang biasa dilakukan menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW, selepas dari makna agamis ternyata memiliki banyak arti jika kita dapat mencermati makna di dalamnya secara mendalam. Saat ini sekaten hanya dianggap sebagai wahana hiburan bagi rakyat kecil oleh penguasa serta cara memdapat berkah dari penguasa dengan berebutan dalam acara gunungan.Namun, pada dasarnya kedua makna tersebut benar hanya terkadang kita kurang memahami makna didalam dari kedua makna tersebut.
Berikut akan saya jabarkan pemaknaan menurut diri saya yang lebih dari itu:
  • Sekaten merupakan wahana hiburan bagi rakyat, karena terdapat berbagai hiburan yang murah meriah dan terjangkau bagi semua kalangan. Selain itu ragam hiburan juga bermacam-macam
  • Sekaten dapat menumbuhkan keluarga harmonis. Stand yang beragam dan juga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan akan membuat banyak keluarga yang tadinya jarang keluar dari rumah untuk rekreasi menjadi pergi keluar dan di sekaten mereka dapat saling berinteraksi dalam keluarga akan apa yang mereka ingini masing-masing, dengan demikian dalam keluarga itu jadi tahu seperti apa kemauan anggota keluarganya. hal ini dapat membuat keluarga jadi tambah harmonis.
  • Sekaten sebagai ajang sosialisasi antar rakyat, baik yang tua maupun muda. Stand yang beragam dan banyak dikunjungi akhirnya dapat membuat orang yang tadinya tidak saling kenal menjadi mengenal satu sama lain. Dengan demikian, orang tersebut akan memperoleh banyak teman dan berbagai sifat serta daerah asal, karena kita tahu sekaten dapat mendatang kan orang dari luar kota sekalipun.
  • Sekaten merupakan tanda syukur. Dalam sekaten diadakan suatu pembagian gunungan dari penguasa ke rakyat. Ini selain sebagai simbol bahwa penguasa juga memperhatikan rakyat, juga sebagai simbol bahwa penguasa bersyukur atas rakyatnya yang selalu mendukung pemerintahannya baik dalam bentuk pujian ataupun kritikan.
Namun, menurut saya keseluruhan, inti sekaten itu terdapat pada puncak acaranya sendiri yaitu saat gunungan di keluarkan, gamelan dibunyikan dan saat Maulid Nabi Muhammad SAW (kelahiran Nabi Muhammad).
Sekaten sebagai tanda kemakmuran. Hal ini dapat di tinjau dari komponen gunungan yang dibuat serta dari asal kata sekaten itu sendiri. Sekaten itu sendiri sebenranya dari kata Sekati, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kati itu berarti ukuran bobot yang berukuran 6,25 ons dan biasa digunakan untuk mengukur beras ketika akan di masak. Dahulu orang jika membeli beras memakai ukuran ini dengan penakar adalah setengah tempurung kelapa. Jika kita tinjau lebih dalam, Sekati berarti satu kati atau 6,25 ons, dan jika menanak nasi sebanyak 6,25 ons beras itu berarti dapat mencukupi kebutuhan hidup satu keluarga dalam satu hari. Dengan demikian keluarga tersebut tidak kekurangan. Selain dari kata sekati, komponen dari gunungan juga bermacam-macam dan biasanya adalah bahan kebutuhan sehari-hari. Bahan kebutuhan sehari-hari atau sembako itu juga merupakan salah satu penopang hidup dan kemakmuran dalam sebuah keluarga. Selain sembako juga ada papan atau kayu serta kain yang turut di ambil, kedua bahan ini mewakili dari sandang dan papan yang dibutuhkan oleh tiap insan.

Pada saat gunungan dikeluarkan juga dibunyikan gamelan sekaten atau gamelan sekati. Gamelan merupakan sebuah seni musik dan mewakili seni yang lain. Ini berarti selain bahan pangan, sandang dan papan, juga manusia dianggap akan makmur bila dapat menikmati atau memiliki suatu rasa seni, salah satunya seni musik. Tidak hanya itu, Hari Maulid Nabi Muhammad SAW pun adalah saat dimana gunungan di keluarkan, ini berarti bahwa segalanya itu tidak akan mengalami kemakmuran jika kita tidak mengenal suatu agama dan Tuhan yang memberikan segalanya untuk kita.

Sehingga dengan demikian, pada hemat saya para penguasa dan jaman dahulu memandang bahwa suatu kemakmuran itu tercipta apabila unsur Pangan, Sandang, Papan, Seni dan Rohani itu tercukupi dan dalam keadaan yang seimbang. Keseimbangan tersebut dapat diambil dari kata sekati karena dengan beras sekati satu keluarga dapat melakukan berbagai pekerjaannya pada satu hari itu.


Sekali lagi pemaknaan tersebut menurut tafsiran saya sendiri, maaf jika ada salah kata.

Semoga bermanfaat,

Terima kasih.

Malam 1 Suro, Jamasan dan Tapa Bisu


Pada malam 1 suro, malam tahun baru kalender Jawa, di bumi Yogyakarta dan Surakarta terdapat beberapa kemiripan tradisi. Tradisi tersebut adalah Jamasan Pusaka dilanjutkan kirab pusaka, dan juga Tapa Bisu. Tradisi tersebut biasanya dilakukan pada malam hari.

Mungkin sekarang sedikit masyarakat yang mengetahui makna dibalik dari tradisi tersebut kecuali hanya sebagai ritual malam 1 suro. Sebetulnya jika kita telaah lebih dalam, dalam 2 ritual atau kegiatan tersebut terdapat makna yang cukup mendalam terlebih untuk menyambut datangnya tahun baru. Dalam hal ini tahun baru yang di sambut merupakan tahun baru Jawa.

Nah, disini saya mencoba untuk berbicara sedikit mengenai makna-makna dari ritual tersebut sejauh yang saya pahami.

1. Jamasan Pusaka
Jamasan Pusaka merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan pusaka-pusaka yang dimiliki seseorang. Sebetulnya dalam jamasan itu, bukan hanya pusaka yang nampak yang harus dibersihkan, namun juga pusaka yang tidak nampak. Pusaka yang nampak dapat berupa Keris, Tombak, Panah, Pedang, Pistol, atau apapun. Sedangkan pusaka yang tidak nampak itu adalah hati.

kenapa perlu di bersikan?
Pusaka-pusaka tersebut perlu di bersihkan agar selalu siap digunakan setiap saat. Jika jarang di bersihkan, pusaka tersebut akan menjadi berkarat dan ketika di butuhkan unuk sesuatu, ia sudah tidak layak di gunakan.

Begitu pula dengan hati, ia harus kita bersihkan dari segala dendam dan kotoran yang ada, karena hati selalu kita gunakan setiap saat. Apabila jarang kita bersihkan, maka kita juga yang rugi, kepekaan kita terhadap lingkungan tertutup karena kotoran-kotoran duniawi. Oleh karena itu, pada setiap malam tahun baru suro diadakan intropeksi diri dalam bentuk tapa bisu.

2. Tapa Bisu
Merupakan rangkaian dalam ritual yang dimana setiap peserta tidak boleh berbicara hingga acara selesai. Biasanya acara tersebut mengkirab pusaka keraton keliling keraton. Pada prosesi tapa bisu ini, peserta juga diharapkan untuk tidak mengenakan alas kaki. Sebetulnya jika saya pahami lebih dalam, tujuan dari tapa bisu ini merupakan suatu acara berintropeksi diri terhadap berbagai tindakan dan pikiran yang telah tercipta selama satu tahun tersebut.

mengapa tanpa alas kaki?
Tidak memakai alas kaki karena diharapkan saat berintropeksi tersebut kita dapat menyatu dengan alam, dan juga membuang setiap enegi negatif yang ada di dalam diri tersbut ke bumi untuk di netralkan. Dengan kaki telanjang pula kita juga dapat merasakan bahwa sesungguhnya kehidupan itu tidaklah mulus walau berbagai upaya telah di lakukan. Sama seperti jalan yang dilalui tidak ada semulus yang kita kira walau telas di aspal dengan baik.


Oleh karena itulah, melalui jamasan pusaka dan tapa bisu keraton berpengharapan agar dalam memulai tahun yang baru kita juga dapat mulai dari bersih dan dengan semangat yang baru pula untuk menjadi semakin baik dengan memperbaiki apa yang belom baik pada tahun sebelumnya. Serta untuk menyiapkan kita akan berbagai situasi yang datang tanpa rencana baik oleh alam maupun oleh manusia sendiri.

Semoga dengan ini kita semakin sadar bahwa tradisi itu baik untuk kita teruskan. Karena setiap tradisi yang ada, pastilah ada makna kehidupan di dalamnya.

Kamis, 23 September 2010

Dimanakah Tuhan?

Pertanyaan "dimanakah Tuhan" merupakan pertanyaan simpel namun cukup sulit untuk dimengerti jika itu di tujukan kepada kita, orang beragama. Agama menyebutkan tempat ibadah itu merupakan rumah Tuhan. Namun apa itu benar dan tepat? Jika iya, berarti Tuhan ahanya berada disana saja dong. Jikapun tidak, kenapa setiap kita beribadah selalu kesana?

Pertanyaan tersebut mungkin juga akan kita tujukan kepada orang lain jika mereka tampak kurang beragama. misalnya: "dimanakah Tuhanmu?".

Disini saya akan sedikit menjawab dan mengulas tentang pemahaman orang Jawa ketika mendapat pertanyaan tersebut melalui sebuah kisah nyata yang sudah lama terjadi. Kita anggap saja orang Jawa yang memegang tradisi tersebut dengan inisial 'A' dan orang yang beragama dengan inisial 'B'.

Suatu hari, A melakukan sebuah ritual di dalam kamarnya dan dengan hening. Dia tidak melakukan ritual yang cukup tidak biasa bagi kita saat ini. Melalui kemenyan dan dupa, dia mendupai dan menaruh tempat pembakaran tersebut di pangkuannya dengan berdoa dan mengarahkan asap menyan yang harum tersebut ke tubuhnya.

Karena baunya sangat khas, maka si B mulai curiga dan bertanya-tanya akan maksud dari ritual tersebut. Setelah si A selesai melakukan ritual, si B langsung mendekati dan bertanya kepada si A. Demikian percakapan mereka berdua:

B: "Eyang tadi sedang melakukan apa?
A: "Sedang sembahyang, (beribadah). Ada apa?"
B: "Kalau beribadah, kenapa eyang mendupai diri eyang sendiri?"
A: "Kalau kita beribadah, kita menyembah dan berkomunikasi kepada siap?"
B: "Kepada Tuhan."
A: "Terus dimanakah Dia berada?"
B: ...........Diam termenung............ "dirumah ibadat?"
A: "Tuhan itu tidak berada di rumah ibadat dan tidak berada di mana-mana, termasuk pohon besar ataupun batu"
B: "lalu dimana?"
A: "Dia selalu berada di hati dan diri kita. Oleh sebab itu, aku selalu mendupai diriku sendiri, karena saat itu aku berarti menyembah, menghaturkan wewangian, dan berkomunikasi dengan Tuhan."
B: "O begitu ya...."

Terkadang kita orang beragama yang dengan jelas di terangkan dalam kitab suci lupa jika Tuhan itu berada dalam diri kita. Namun, mereka yang berkeyakinan Jawa dan berdoa berdasarkan pengalaman justru lebih memahami di manakah Tuhan itu. Jika kita seperti A, dimanapun berada kita akan selalu ingat jika Tuhan selalu beserta kita, selalu menjaga kita, selalu mendampingi kita, dan kita pun akan semakin merasakan cinta-Nya yang turun ke kita. Dari rasa tersebut tentunya kita akan semakin berhati-hati dalam setiap bertindak dan berucap, karena kita bertindak dan berucap bukan hanya menyertakan diri kita sendiri namun kita juga menyertakan Tuhan yang bersemayam dalam diri kita.

Semoga dengan ini kita semakin diingatkan jika Tuhan selalu bersemayam dalam diri kita dan beserta kita. Jalanilah hidup yang baik dan seturut kehendaknya dengan mencintai sesama dan alam, karena dengan demikian berarti kita telah bekerja dan menjalani hidup bersama Tuhan.

Sekian.

Rabu, 28 Juli 2010

Pentingnya Menghargai Kearifan Lokal

Belakangan ini sering kita mendengar bahkan mungkin merasakan sendiri jika berbagai bencana alam sering singgah di bumi Nusantara ini. Mulai dari bencana banjir, gempa bumi, longsor hingga tsunami. Mungkin dari bencana tersebut yang sring kita dengar adalah gempa bumi dan banjir yang hampir di setiap pelosok Nusantara dapat mengalaminya. Bencana tersebut tidaklah pandang bulu, segla sesuatu yang menghalangi pergerakannya dilahapnya. Sehingga kita tidaklah dapat melawan bencana, kita hanya mampu mencegah dan menanggulangi atau memperkecil dampak dari kerusakan yang ada.
Ternyata usaha tersebut telah di pelajari secara tidak langsung oleh para leluhur kita dahulu. Mungkin sekarang sedikit yang mengetahui dengan pasti apa saja usaha-usaha penanggulangan tersebut, begitu pula dengan saya. Namun, lambat laun saya sedikit mengetahuinya dan saya mendapatkan pengetahuan tersebut juga tidaklah secara langsung melainkan melalui pemberitaan dari televisi, seringnya saya mendapati tempat-tempat yang masih melestarikan tradisi dan juga dari pembicaraan orang-orang tua yang masih hidup saat ini.
Baik, saya akan coba mulai berbagi mengenai kearifan lokal atau mungkin budaya dan pengetahuan lokal Jawa.
Saya akan memberikan gambaran tentang lempeng benua dalam arti orang Jawa jaman dahulu. Orang Jawa jaman dulu tidaklah mengetahui ilmu geologi barat, mereka juga tidak memiliki kapa selam yang mampu menyelam hingga ke dasar samudra seluruh Nusantara. Namun, tanpa kita sadari, orang Jawa dahulu pernah mengatakan atau beranggapan jika bumi Nusantara ini di topang oleh 3 naga besar yang melintang dan membujur serta letaknya mirip dengan letak ketiga lempeng yang berada di Indonesia saat ini. Maaf untuk namanya tiap naga saya lupa. Selain itu, mereka juga beranggapan jika ketiga naga tersebut bertemu di daerah Maluku. Serta, setiap kali ada gempa mereka juga beranggapan jika salah satu naga tersebut sedang mengoletkan tubuhnya. Dari sini kita sudah dapat memahami jika orang Jawa dulu telah mengetahui bagaiman gempa bumi itu terjadi dan pola pergerakannya.
Dari pengetahuan dan anggapan tersebut, maka orang Jawa selalu berusahan membangun bentuk rumah atau bangunan yang memiliki kerusakan terkecil jika terkena bencana gempa bumi yaitu rumah berbentuk Joglo. kenapa saya juga beranggapan demikian? Itu karena saya melihat rumah-rumah Joglo asli jaman dahulu itu tidak menggunakan paku, hanay menggunakan pasak untuk mengambung tiap bagian. Selain itu, Joglo juga memiliki 4 pilar utama pada bagian tengah rumah yang di hubungkan dengan kayu yang juga hanya di masuk masukkan serta ujungnya di lebihkan. Pada mulanya melihat bangunan tersebut saya bingung untuk apa sisa kayu yang menonjol keluar hingga suatu saat saya memiliki anggapan jika itu untuk toleransi pergerakan guncangan rumah jika sedang terkena gempa bumi. kita pun tahu jika dengan pasak maka tingkat toleransi antar sambungan lebih tinggi dari pada menggunakan paku.
Selain dari model pilar bangunan, penempatan bangunan juga, yaitu bangunan Joglo juga hanya menempatkan cakar ayam hanya pada pilarnya saja sehingga rumah bangunan tersebut akan mudah menyesuaikan goncangan gempa dengan tujuan untuk memperkecil resiko runtuhnya bangunan. Serta bentuk bangunan yang terbuka lebar juga membuat para penghuni mudah keluar jika terjadi suatu bencana alam.
Model bangunan yang disesuaikan dengan keadaan alam dan bencana yang banyak berkunjung bukan saja di tanah Jawa namun juga di berbagai daerah penjuru Nusantara lainya. Misalnya orang Kalimantan membuat rumah panggung yang tinggi dengan tujuan agar ketika terjadi pasang atau banjir besar rumah tersebut tetap kering karena kit pun tahu jika Kalimantan dikelilingi suangai-sungai besar. Kemudian saya juga pernah mendengar rumah Sunda yang terdiri atau terbuat dari bambu dengan tujuan jika rumah tersebut terkena gempa dan rusak mereka dapat dengan mudah untuk mengembalikannya ke bentuk rumah.

Selasa, 20 Juli 2010

Seni itu Pribadi Pemiliknya

Seni itu pribadi pemiliknya, ungkapan ini terpikirkan setelah saya menonton pertunjukan SIEM dan SIPA pada bulan ini. mengapa saya berpikiran seperti itu, karena setelah menonton pertungjukan-pertunjukan tersebut saya seperti berada di suasana daerah dimana kesenian tersebut berada dan mengerti seperti apa kepribadian dari daerah-daerah tersebut. Selain itu, saya juga beranggapan jika setiap kesenian itu muncul dari suatu kepribadian masyarakat setempat.

Dalam hal ini saya memberi beberapa contok yang begitu terlihat yaitu antara orang Sumatera dengan orang Jawa. Dimata orang Jawa, orang Sumatera nampak begitu tegas dan cepat dalam setiap saat dan segala sesuatu diutarakan secara langsung, dan hal tersebut juga saya lihat dalam bebagai bentuk lagu dan tarian yang berasal dari sana yang sebagian besar bertempo tegas. Berbeda dengan orang Jawa yang di mata orang Sumatera lemah lembut, kesenian yang berasal dari jawapun terlihat pelan dan lembut.

Okey, disini saya akan mencoba membahas lebih lanjut bagaimana saya beranggapan jika Seni itu Pribadi Pemiliknya. Namun, tetap saja saya menulis dalam lingkup kesenian dan budaya yang berada di Jawa.

Seni Sastra

Seni sastra yang saya maksud dalam hal ini meliputi bentuk tulisan dan bahasa. Jika kita melihat bentuk tulisan jawa, disana terlihat suatu bentuk yang terluhat polos namun juga detail dan melengkung. Sehingga dari tulisan tersebut, kita dapat mengatakan jika untuk menulis saja harus membutuhkan kelembutan dan keuletan serta detail agar dapat menghasilkan bentuk seperti itu. Ini bukan berarti tidak ada ketegasan dalam diri orang Jawa, karena jika kita cermati kembali, tetap ada unsur-unsur ketegasan yang terselip dalam tulisan tersebut. Yah bagi saya orang Jawa memiliki suatu ketegasan tersembunyi di balik kelembutannya.

Kemudian dari segi bahasa. orang Jawa sendiri memiliki bahasa yang beragam sesuai kalangan dimana mereka sedang berada dan berbicara (secara garis besar dibagi dua, yaitu Ngoko dan Krama). dalam hal ini kita juga dapat menyimpulkan jika orang Jawa mampu beradaptasi dan tahu diri dimana mereka berada dan berhadapan. Dihadapan para petinggi, mereka tetap menghormati sedangkan di hadapan anak buah mereka juga dapat dihormati. Namun, terkadang kita sering lupa akan posisi-posisi kita berada karena kita terbiasa dengan 1 bahasa untuk segala hal. Saat sekarang ini, jika kita jadi bawahan, kita sering memposisikan diri kita menjadi bawahan dimana-mana walaupun itu di depan anak atau bawahan kita saat kita telah naik jabatan. dan juga sebaliknya saat jadi atasan kita sering memposisikan diri juga menjadi atasan dimana kita berada tanpa melihat siapa yang sedang kita hadapi. Bagi saya orang Jawa telah mampu memposisikan diri dimana mereka berada, melalui tutur kata dan bahasa mereka.

Seni Tarian


Jika kita memperhatikan tarian Jawa disana sering terdapat perbedaan tempo atau ketukan. Pada awal suatu tarian, tempo lambat kemudian bergerak cepat dan menegas, dan melambat kemudian. Disini kita dapat melihat jika orang Jawa itu lebih melihat suatu proses dalam kehidupan manusia. Orang Jawa sadar jika menuju suatu puncak keberhasilan tertinggi manusia itu perlu suatu perjalanan panjang dan pelan (tempo lambat pada awal) dan kemudian kita akan mengalami keberhasilan kita dalam jalani kehidupan apakah menyenangkan terhadap diri kita ataupun tidak (tempo cepat dan tegas) setelah kita berhasil, kita akan mengalami kehidupan tua untuk mengakhiri keberhasilan tersebut, dan sebaiknya kita mengakhirinya secara pelan agar kita tidak merasakan begitu kehilangan terhadap keberhasilan tersebut (tempo melambat kembali). Selain itu, dalam kehidupan kita, juga diperlukan ketegasan yang kita selipkan dalam proses tersebut agar keberhasilan tersebut sesuai keinginan kita (gerakan-gerakan tegas dalam tarian yang sedikit-sedikit dikeluarkan penari). Inilah yang menarik bagi saya karena saya melihat bahwa dalam setiap kelembutan tarian Jawa ternyata terdapat suatu ketegasan dan pelajaran dalam memaknai kehidupan.